SAHABATNKRI.COM | PEKALONGAN – Suasana haru, tegang, dan penuh kebingungan menyelimuti kawasan Padepokan Pondok Pesantren Padang Ati, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada Rabu (27/5/2026). Kondisi ini terjadi pasca mencuatnya dugaan kasus pencabulan yang menyeret nama pimpinan lembaga pendidikan tersebut, yang kini sedang diperiksa intensif di kepolisian.
Dalam keterangannya kepada awak media, Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Riki Yuliandi, menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah mengambil langkah pengamanan lokasi. Ia menyebutkan telah memasang garis polisi atau police line di area padepokan guna keperluan penyelidikan dan pengamanan barang bukti.
Namun, berdasarkan pantauan langsung sejumlah awak media di lokasi hingga sekitar pukul 17.30 WIB, pernyataan tersebut terlihat berbeda dengan fakta di lapangan. Hingga sore hari, sama sekali tidak terlihat adanya garis polisi, penyekatan, atau tanda pengamanan resmi yang dipasang di area pondok pesantren tersebut. Lokasi tetap terbuka dan aktivitas warga maupun santri masih berjalan seperti biasa.
Di tengah ramainya pemberitaan dan gegap gempita kasus ini, para wali murid tampak berdatangan dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan. Kedatangan mereka memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menjemput dan membawa pulang anak-anak mereka yang menuntut ilmu dan menetap di padepokan tersebut.
Suasana haru dan kesedihan pun pecah di lingkungan pondok. Terlihat sejumlah santriwati berpamitan dan dibawa pulang oleh keluarganya masing-masing. Banyak wali murid yang terlihat memeluk erat anak-anak mereka sambil meneteskan air mata, seolah lega bisa membawa pulang anak mereka dari tempat yang kini menjadi sorotan masalah. Situasi di dalam kompleks pondok pun menjadi riuh, dipenuhi suasana duka, kecemasan, dan kebingungan.
Meski demikian, tidak semua santriwati memilih untuk meninggalkan padepokan. Sebagian kecil dari mereka mengaku tetap bertahan dan setia tinggal di sana. Mereka mengaku masih memiliki keyakinan penuh serta rasa hormat yang tinggi terhadap sosok pimpinan yang biasa mereka panggil dengan sebutan “Abah Yai”.
“Saya yakin itu semua hanya fitnah dan berita bohong. Tidak mungkin Abah Yai melakukan hal-hal tidak senonoh atau keji seperti yang dituduhkan banyak orang,” ungkap salah satu santriwati yang enggan disebutkan identitasnya, dengan nada yakin membelah sosok pengasuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses penyelidikan dan pemeriksaan oleh pihak kepolisian terhadap pimpinan padepokan masih terus berlangsung di Mapolres Pekalongan Kota. Pihak berwenang juga belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait perkembangan hasil interogasi maupun status hukum resmi dari pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang menggegerkan masyarakat ini.














