Kabupaten Pekalongan – Pepatah lama menyatakan, “ikan busuk dimulai dari kepalanya”. Ungkapan ini kembali relevan ketika publik menyoroti kondisi kepemimpinan daerah yang dinilai mulai kehilangan arah dan integritas.
Ibarat kepala ikan yang membusuk, kerusakan tidak berhenti pada satu titik. Pembusukan tersebut perlahan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Begitu pula dalam tata kelola pemerintahan: ketika pucuk pimpinan atau kepala daerah tidak mampu menjaga integritas, transparansi, dan tanggung jawab, dampaknya akan merembet ke bawah.
Para pejabat di lingkaran berikutnya – mulai dari wakil kepala daerah, kepala dinas, hingga jajaran struktural lainnya – berpotensi ikut terseret dalam pola yang sama. Masalahnya tidak hanya terletak pada kebijakan yang tidak tepat, tetapi juga pada budaya kerja yang ikut tergerus. Keteladanan yang seharusnya menjadi fondasi justru berubah menjadi contoh buruk yang diikuti.
Sejumlah aktivis dan pengamat menilai, kondisi ini merupakan alarm keras bagi masyarakat. Kepemimpinan yang lemah atau bermasalah tidak hanya merugikan secara administratif, tetapi juga berdampak langsung pada pelayanan publik dan kepercayaan masyarakat.
“Kalau kepalanya sudah tidak sehat, sulit berharap bagian lain tetap berjalan baik. Sistem akan ikut rusak,” ujar salah satu aktivis di Kabupaten Pekalongan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa jabatan publik bukan sekadar posisi, melainkan amanah besar. Kepemimpinan yang bersih, transparan, dan berintegritas adalah kunci utama agar roda pemerintahan berjalan dengan baik.
Masyarakat berharap, ke depan akan lahir pemimpin yang mampu menjadi teladan, bukan justru sumber masalah. Sebab, ketika kepala tetap sehat, seluruh bagian akan ikut kuat dan berjalan sebagaimana mestinya.














