SAHABATNKRI.COM | KAJEN – 23-Mei-2026-Nasib Gedung Kesenian Kabupaten Pekalongan yang berlokasi di kawasan Kajen kembali menjadi sorotan tajam masyarakat. Bangunan megah yang dibangun dengan menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu kini terbengkalai, tidak terawat, dan tidak memberikan manfaat sebagaimana tujuan awal pembangunannya.
Berdasarkan data yang dihimpun, gedung ini mulai dibangun pada tahun 2007. Namun sayang, fasilitas publik tersebut hanya aktif dan dimanfaatkan selama kurang lebih satu tahun saja. Sejak saat itu hingga belasan tahun kemudian, bangunan luas tersebut justru dibiarkan kosong, tidak terurus, dan kondisinya semakin memprihatinkan.
Pantauan di lapangan memperlihatkan bangunan yang kini beralih fungsi menjadi tempat yang angker dan menyeramkan. Di kalangan warga sekitar, gedung ini bahkan lebih dikenal dengan sebutan “Gedung Misterius”, karena sepi aktivitas dan dihuni ribuan ekor kelelawar yang bersarang di sudut-sudut bangunan.
Masyarakat setempat sangat menyayangkan pembiaran aset daerah bernilai besar tersebut. Pasalnya, lokasi gedung dinilai sangat strategis dengan lahan yang cukup luas, namun justru tidak memberikan kontribusi apa pun bagi kemajuan daerah maupun kesejahteraan warga.
“Sangat disayangkan, gedung sebesar dan sebagus itu dibangun pakai uang rakyat, tapi dibiarkan mangkrak bertahun-tahun. Padahal lahannya luas dan posisinya strategis, sayang sekali tidak dimanfaatkan,” ujar Mustofa warga kab pekalongan.
Melihat kondisi yang tak kunjung berubah, masyarakat pun berharap Pemerintah Kabupaten Pekalongan segera turun tangan mencari solusi terbaik agar bangunan tersebut kembali berfungsi. Salah satu usulan warga yang paling banyak didengar adalah mengubah fungsi gedung tersebut menjadi pusat jajanan serba ada (Pujasera) atau pusat kuliner terpadu.
Menurut warga, jika gedung tersebut dialihfungsikan menjadi pusat kuliner dan sentra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dampak positifnya akan sangat luas. Pelaku usaha dari 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan bisa berkumpul, berkembang, sekaligus mempromosikan produk-produk unggulan dan makanan khas daerah kepada warga maupun pengunjung dari luar wilayah.
Selain itu, pemanfaatan gedung ini dinilai bisa menjadi solusi atas masalah pedagang yang kerap memanfaatkan trotoar dan bahu jalan sebagai tempat berjualan. Dengan adanya lokasi yang memadai, luas, dan tertata, para pedagang kecil akan memiliki tempat yang layak, sementara wajah kota Kajen pun akan menjadi lebih rapi, indah, dan tertib.
“Kalau dijadikan pusat jajanan atau kuliner, rasanya jauh lebih bermanfaat. Pedagang punya tempat layak, tidak lagi memakan tempat di trotoar, dan kawasan ini jadi ramai serta hidup kembali,” tambah warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti kepastian dan perhatian serius dari pemerintah daerah terkait nasib Gedung Kesenian ini. Warga berharap tidak ada lagi aset daerah yang sia-sia, melainkan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak.














