SAHABATNKRI.COM | KAJEN — Kasus kebakaran di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, selama hampir tiga bulan musim kemarau tercatat mencapai sekitar 60 kejadian. Mayoritas kebakaran terjadi pada lahan dan kawasan hutan.
Tingginya angka kejadian tersebut membuat petugas pemadam kebakaran (Damkar) harus bekerja ekstra dalam menangani setiap laporan yang masuk. Penanganan di lapangan juga melibatkan sejumlah unsur, di antaranya TNI, BPBD, relawan, serta pihak terkait lainnya.
Kasatpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, Wahyu Kuncoro, mengatakan sekitar 60 kejadian kebakaran telah terjadi selama musim kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan.
“Sudah di angka 60 kejadian kebakaran selama musim kemarau ini atau sekitar hampir tiga bulan,” kata Wahyu kepada Tribun Jateng, Jumat (18/9/2026).
Menurut Wahyu, sebagian besar kejadian merupakan kebakaran lahan dan hutan. Sementara kebakaran rumah juga terjadi, namun jumlahnya tidak sebanyak kebakaran di lahan maupun kawasan hutan.
Damkar Andalkan Armada yang Tersedia
Dalam menjalankan tugasnya, Damkar Kabupaten Pekalongan saat ini memiliki tiga unit truk pemadam berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Selain itu, terdapat satu kendaraan jenis Hilux berkapasitas 500 liter serta satu mobil penyelamatan dan pelayanan nonkebakaran.
Tiga truk pemadam tersebut merupakan kendaraan dengan tahun pembuatan berbeda, yakni 2006, 2009, dan 2016.
Namun, salah satu armada mengalami kerusakan. Truk tahun 2016 mengalami kerusakan pada bagian kampas kopling sehingga kendaraan masih dapat menyala, tetapi tidak dapat digunakan untuk berjalan.
“Yang rusak truk tahun 2016. Kerusakannya, kampas kopling. Bisa nyala tapi tidak bisa jalan,” jelas Wahyu.
Meski demikian, Wahyu menyebut kondisi armada yang tersedia masih dapat mendukung operasional Damkar. Pihaknya terus berupaya agar kendaraan yang mengalami kendala tetap dapat segera digunakan setelah dilakukan perbaikan.
“Alhamdulillah bisa berjalan. Artinya kalaupun ada kerusakan, ini kami yang penting bisa jalan dulu,” ujarnya.
Ajukan Penambahan Armada
Untuk meningkatkan kemampuan penanganan kebakaran, Damkar Kabupaten Pekalongan juga tengah mengajukan penambahan armada pemadam berukuran sedang dengan kapasitas sekitar 3.000 hingga 4.000 liter.
Menurut Wahyu, armada berukuran sedang dibutuhkan karena lebih mudah digunakan untuk menjangkau kawasan permukiman yang memiliki akses jalan sempit dan sulit dimasuki truk pemadam berukuran besar.
Sementara itu, kendaraan berkapasitas 500 liter tetap dipertahankan untuk menjangkau lokasi yang membutuhkan penanganan cepat dan berada di kawasan yang sulit diakses kendaraan berukuran besar.
APAR Dinilai Penting untuk Kebakaran Kecil
Selain keterbatasan armada, ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) juga menjadi perhatian Damkar Kabupaten Pekalongan.
Wahyu menjelaskan, APAR dapat menjadi salah satu solusi untuk menangani titik-titik kebakaran kecil, khususnya yang tersebar di lahan kosong maupun kawasan hutan.
“Tidak semua harus dengan air. Kalau yang kecil-kecil tapi terpisah banyak, mungkin kita akan lebih efektif dengan membawa APAR ke lapangan,” jelasnya.
Dengan tingginya kejadian kebakaran selama musim kemarau, keberadaan armada yang memadai serta peralatan pendukung seperti APAR menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan dan mencegah kebakaran meluas.














