SAHABATNKRI.COM | PEKALONGAN –25 – Mei-2026- Fenomena yang sedang viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat Kabupaten Pekalongan, terkait seorang santriwati berinisial F (22 tahun) warga Desa Kedungkebo, Kecamatan Karangdadap, yang dikabarkan hamil hingga melahirkan tanpa memiliki suami dan keluarga menyebutnya sebagai takdir Allah semata, akhirnya mendapat tanggapan dari para pemimpin daerah.
Keluarga santriwati tersebut sebelumnya membuat pernyataan mengejutkan, di mana mereka meyakini kehamilan dan kelahiran bayi tersebut terjadi tanpa adanya hubungan fisik dengan laki-laki manapun. Mereka menganggap peristiwa itu murni kehendak Tuhan dan berawal dari mimpi-mimpi yang sering dialami putrinya, serta memandang kejadian ini sebagai ujian hidup yang harus dijalani dengan keikhlasan. Pernyataan ini sontak memicu beragam reaksi, di mana sebagian besar masyarakat menyatakan ketidakpercayaan dan menilai alasan kehamilan berawal dari mimpi itu tidak masuk akal.
Merespons keresahan dan perbincangan luas di masyarakat, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, angkat bicara saat menghadiri acara pengajian umum yang digelar Muslimat NU di Kecamatan Karangdadap. Sukirman menanggapi fenomena unik ini dengan bijak namun tetap mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban umum.
“Kalau soal mimpi dan hal-hal yang berbau irasional, saya kira itu memang menjadi keyakinan masing-masing dan harus disikapi dengan bijak. Namun yang paling penting, saya mengajak seluruh pemimpin di Kabupaten Pekalongan untuk bersama-sama menjaga keamanan, menjaga ketertiban, serta mencegah terjadinya fitnah maupun hal-hal yang dapat menistakan pihak tertentu,” ujar Sukirman di hadapan jamaah.
Selain itu, Sukirman juga menegaskan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadi atau mengeruhkan suasana. Ia secara tegas mengingatkan agar tidak ada oknum yang mengaku sebagai kiai, ulama, atau tokoh agama, namun justru bertindak atau berbicara yang dapat meresahkan masyarakat.
“Kami juga berharap tidak ada oknum-oknum yang mengaku sebagai kiai atau tokoh agama kemudian melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan, Munir, juga memberikan tanggapan terkait kasus yang menimbulkan tanda tanya besar ini. Menurutnya, peristiwa ini menjadi evaluasi penting bagi dunia pendidikan, khususnya lembaga pendidikan pesantren atau pendidikan keagamaan.
Munir menyatakan, meski persoalan ini adalah ranah pribadi dan keluarga, namun pengawasan terhadap lingkungan tempat para santri menuntut ilmu harus terus diperketat agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan.
“Terkait adanya peristiwa santriwati yang hamil hingga melahirkan di Desa Kedungkebo, kami tetap mendorong adanya pengawasan dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan santri dan santriwati. Pengawasan harus terus dilakukan agar ketertiban tetap terjaga dan apabila ditemukan pelanggaran tentu bisa segera ditegur serta dibina,” ungkap Munir.
Lebih lanjut Munir menjelaskan, pihaknya akan terus berkoordinasi erat dengan organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, Kementerian Agama, serta pemerintah daerah. Langkah ini diambil agar persoalan yang dinilai janggal dan tidak masuk akal oleh sebagian besar masyarakat ini tidak menimbulkan keresahan yang berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, Kementerian Agama maupun pemerintah agar persoalan seperti ini tidak menimbulkan keresahan yang berkepanjangan di tengah masyarakat,” pungkas Munir.
Hingga kini, masyarakat masih menunggu kejelasan lebih lanjut, mengingat penjelasan keluarga yang mengaitkan kehamilan tersebut dengan mimpi dan takdir Allah masih dianggap sulit diterima akal sehat dan memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat Pekalongan.














